Aku suka menyendiri, tapi bukan begini. Aku rindu keluar rumah; aku rindu taman baca, aku rindu kampusku, aku rindu menyusuri jalanan sejuk penuh pepohonan di Surabaya Timur dengan sepeda motorku, dan tentunya, aku rindu teman-teman tersayangku.
Rumah tetaplah terasa rumah, tetapi aku dan keluargaku memutuskan untuk membatasi interaksi fisik kami. Aku tidak bisa lagi peluk ibuku dan aku tidak bisa lagi peluk ayahku, cium tangan mereka dan peralatan makan kami dipisah. Apakah aku sedih? Sebenarnya begitu, tetapi beginilah cara kami menjaga kesehatan satu sama lain. Beginilah cara menyayangi satu sama lain disaat situasi dunia tidak kondusif seperti ini. Iya, kami seperti orang asing yang saling menyayangi di rumah ini.
Ini adalah ceritaku, cerita biasa dari seorang pria berumur 19 tahun yang sehat dan masih beruntung karena terhindar dari wabah yang sedang membunuh kaumku. Aku tidak mengeluh, karena manusia sehat sepertiku sangatlah tidak pantas untuk mengeluh disaat ribuan jiwa menangis-nangis ingin bertukar raga denganku.
Disaat bagaimana sebuah wabah bisa mengubah kebiasaanku. Interaksi sosial secara fisik perlahan terbatasi sampai pada interaksi melalu benda elektronik saja. Aku tidak suka ini, tetapi sejauh ini hanya inilah satu satunya upaya untuk menyelamatkan nyawaku dan kaumku dari kemungkinan buruk yang mungkin akan terjadi.
Aku bukan tipe manusia yang senang membagikan aktivitas pribadiku, namun kini perlahan aku mulai melakukannya tanpa sadar di media sosial. Apakah aku menyesali ini? Tidak. Apakah aku menikmati ini? Tidak juga.
Aku tidak menyalakan siapa-siapa atas perubaham diriku dibawah tekanan wabah yang sedang menggila dan terus memakan korban ini. Karena aku tahu diri, bahwa aku juga bagian dari kaum manusia kotor itu kaum yang memiliki ego tidak terbatas yang menyebabkan segala kekacauan yang terjadi saat ini
Jika waktu bisa diulang, apakah aku ingin mengulang waktu kebelakang disaat wabah ini belum terjadi ?
Tidak, karena aku yakin jikalau sentilan semesta ini tidak terjadi, kaumku tidak pernah betul-betul memahami betapa berharganya guliran waktu, dan betapa pentingnya untuk menikmati setiap momen yang ada.
Apakah ada yang aku sesali?
Tidak, aku tidak pernah menyesali apapun. Semua hal baik dan buruk yang pernah terjadi di hidupku adalah guru terbaikku agar aku bisa menjadi manusia yang semakin kuat, ikhlas, sabar dan selalu bersyukur. Dengan ini, aku belajar bahwa kedepannya, aku harus lebih menghargai kebersamaanku dengan manusia-manusia di sekitarku setiap detiknya dan aku juga harus lebih menghargai setiap tarikan dan hembusan nafas yang dapat aku lakukan dengan raga yang sehat.
No comments:
Post a Comment